Oleh: ayatayathidayah | November 17, 2008

Sekelumit Sejarah Qiraat

Asal-usul Timbulnya Istilah Qiraat Sab’ah, ‘Asyrah, dan Syadzah

Telah masyhur diketahui bahwa ketika Utsman mengirimkan mashahif ke pelosok negeri yang dikuasai Islam, beliau menyertakan orang yang sesuai qiraatnya dengan mashahif tersebut. Qiraat ini berbeda satu dengan lainnya karena mereka mengambilnya dari sahabat yang berbeda pula. Perbedaan ini berlanjut pada tingkat tabiin di setiap daerah penyebaran. Demikian seterusnya sehingga sampai pada munculnya imam qurra’. Begitu banyaknya jenis qiraat sehingga seorang imam, Abu ‘Ubaid al-Qasim ibn Salam (w. 224 H) tergerak untuk menjadi orang pertama yang mengumpulkan berbagai qiraat dan menyusunnya dalam satu kitab. Menyusul kemudian ulama lainnya menyusun berbagai kitab qiraat dengan masing-masing metode penulisan dan ketegorisasinya.
Demi kemudahan mengenali qiraat yang banyak itu, pengelompokan dan pembagian jenisnya adalah cara yang sering digunakan. Maka dari segi jumlah, ada tiga macam qiraat yang terkenal yaitu, qiraat sabah, ‘asyrah, dan arba’ asyrah. Sedangkan Ibn al-Jazari membaginya dari segi kaidah hadits dan kekuatan sanadnya. Namun demikian kedua pembagian ini saling terkait satu dengan lainnya. Paparan berikut membatasi penjelasan hanya pada asal-usul timbulnya beberapa peristilahan di atas, yaitu qira’at sab’ah, ‘asyrah, dan syadzah.

Bila disebut sab’ah?
Pada dasawarsa pertama abad IV Hijrah, seorang ulama Baghdad pernah dikecam atas tuduhan bahwa ia telah mengakibatkan kerancuan pemahaman orang banyak terhadap pengertian “tujuh kata” yang dengannya al-Qur’an diturunkan. Ia dipandang telah mengaburkan persoalan dengan meresahkan orang-orang yang berpandangan picik bahwa qira’at ini adalah tujuh huruf yang disebut dalam al-hadits. Ia adalah Abu Bakr Ahmad, alias Ibn Mujahid yang secara sengaja menyusun sebuah kitab yang diberi nama “Kitab al-Sab’ah” tanpa maksud tertentu namun, secara tak sengaja melahirkan tuduhan tadi. Dan seorang yang dengan “pedas” telah mencapnya sebagai “si pembikin tujuh” itu adalah Abu al-Abbas ibn Amar yang pada awal abad V Hijrah tersohor sebagai “imam muqri’”.
Istilah qira’at sab’ah di zaman Abu al-Abbas memang belum populer. Tetapi bukan berarti tidak ada. Qira’at ini sesungguhnya telah akrab di dunia akademis sejak abad II Hijrah. Yang membuat tidak atau belum memasyarakatnya qira’at tersebut adalah karena kecenderungan ulama-ulama saat itu hanya memasyarakatkan satu jenis qira’at saja dengan mengabaikan qira’at yang lain, baik yang tidak benar maupun dianggap benar. Ibn Mujahidlah, dengan tantangan yang dihadapinya, melakukan terobosan dengan mengumpulkan tujuh jenis qira’at yang mempunyai sanad bersambung kepada sahabat Rasulullah terkemuka. Mereka adalah :
1. Abdullah ibn Katsir al-Dariy dari Makkah (w. 120 H)
2. Nafi’ ibn Abd al-Rahman ibn Abu Nu’aim, dari Madinah (w. 169 H)
3. Abdullah al-Yashsibiyn atau Abu ‘Amir al-Dimasyqi dari Syam (w. 118 H)
4. Zabban ibn al-‘Ala bin ‘Ammar atau Abu Amr dari Bashrah (w. 154 H)
5. Ibn Ishaq al-Hadrami atau Ya’qub dari Bashrah (w. 205 H)
6. Ibn Habib al-Zayyat atau Hamzah dari Kufah (w. 188 H)
7. Ibn Abi al-Najud al-Asadly atau ‘Ashim dari Kufah (w. 127)
Ketika itu Ibn Mujahid menghimpun qira’at-qira’at mereka, ia menandakan nama Ya’qub untuk digantikan posisinya dengan al-Kisai dari Kufah (w. 182 H). Pergantian ini memberi kesan bahwa ia menganggap cukup Abu ‘Amr yang mewakili Bashrah. Sehingga untuk Kufah, ia menetapkan tiga nama yaitu, Hamzah, ‘Ashim dan al-Kisai. Meskipun di luar tujuh imam di atas masih banyak nama lainnya, namun kemasyhuran tujuh imam tersebut semakin luas setelah Ibn Mujahid secara khusus membukukan qira’at-qira’at mereka.

Bila disebut ‘asyrah?
Selain tujuh qira’at di atas yang ditetapkan Ibn Mujahid, masih ada tiga qira’at lagi yang qira’atnya, sesuai persyaratan yang ditetapkan, masih bisa diterima. Karena itu kemudian dikenal pula istilah qira’at ‘asyrah. Tiga tambahan itu adalah, 1) qira’at Ya’qub (yang digeser oleh Ibn Mujahid dari qira’at sab’ah untuk diganti dengan al-Kisai), 2) qira’at Khalaf ibn Hisyam (w. 229), 3) qira’at Yazid ibn al-Qa’qa’ yang masyhur disebut Abu Ja’far (w. 130 H).
Untuk diterimanya qira’at para ulama menetapkan kriteria-kriteria sebagai berikut:
1. Mutawatir.
2. Sesuai dengan kaidah bahasa Arab
3. Sesuai dengan tulisan (rasm) mushhaf utsmani
4. Mempunyai sanad yang shahih
Seperti halnya dalam menetapkan hukum syara’, ulama beristinbath kepada riwayat-riwayat yang bersanad shahih, begitu pula dalam penerimaan qira’at.

Bila disebut syadzah?
Jika diperhatikan tiga rukun pertama di atas, maka besar kemungkinan dapat diketahui bahwa qira’at syadzah muncul pada masa pemerintahan khalifah Utsman ibn ‘Affan ketika al-Qur’an telah dikodifikasikan dan adanya perintah untuk membakar semua tulisan yang al-Qur’an selain yang dibentuk Utsman bin ‘Affan. Peristiwa tersebut merupakan batas yang membedakan dan menentukan antara qira’at shahih dengan qira’at syadzah. Oleh sebab itu persesuaian antara satu qira’at dengan rasm Utsmani merupakan salah satu syarat shahihnya qira’at tersebut.
Dr. Muhammad Salim Muhaisin, dalam kitab “fi Rihabi al-Qur’an”, berpendapat bahwa batas yang membedakan dan menentukan antara qira’at shahih dengan qira’at syadzah adalah pemeriksaan Jibril yang terakhir terhadap qira’at al-Qur’an Nabi Muhammad SAW pada tahun wafatnya beliau. Dalam pemeriksaan terakhir ini, sebagian qira’at dinasakh, dan inilah yang dianggap kemudian sebagai syadzah. Adapun dari segi sanad, qira’at syadzah ada kemungkinan bersambung kepada Rasulullah.
Demikian paparan singkat ini. Penelitian ulang mengenai bahasan ini, khususnya, dan disiplin qira’at, umumnya, adalah pekerjaan yang mungkin menjawab segala pertanyaan yang ada dan segala keraguan yang masih tersimpan dalam benak setiap muslim. Wallahu a’lam bi al-shawab.


Responses

  1. Ini adalah makalah saat S-1. Subhanallah, saya tak tahu kalau dulu pengetahuanku tentang qiraah pernah seperti ini. Kok banyak yang saya lupa? Astaghfirullah.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: