Oleh: ayatayathidayah | November 17, 2008

Transmisi Alquran: Secuil Telaah Sejarah Kodifikasi

“Nabi Muhammad SAW wafat sedangkan Al-Quran belum dibukukan”. Demikian perkataan Zaid ibn Tsabit. Memang seperti diakui oleh banyak sarjana, pada masa Nabi tidak ada pembukuan Al-Quran. Yang ada hanyalah proses penyampaian wahyu oleh Nabi kepada sahabatnya yang menghafal dan menuliskannya dalam bentuk yang sangat sederhana pada perkamen, batuan, kayu, papyrus dll.
Tercatat beberapa sahabat yang menuliskan Al-Quran dalam kurun waktu penyampaian wahyu oleh Nabi sehingga disebutlah mereka dengan “juru tulis” Nabi. Dalam riwayat Ibn Mas’ud, Nabi merekomendasikan para sahabatnya untuk mengambil Al-Quran dari Abdullah bin Mas’ud, Salim, Mu’adz, dan Ubay bin Ka’ab. Dalam riwayat Qatadah yang bertanya kepada Anas bin Malik tentang pengumpul Al-Quran, Anas menjawab bahwa mereka adalah Ubai bin Ka’ab, Mu’adz ibn Jabal, Zaid bin Tsabit, dan Abu Zaid. Dan dalam riwayat Anas bin Malik yang lain, mereka adalah Abu Darda’, Mu’adz ibn Jabal, Zaid ibn Tsabit, dan Abu Zaid.
Namun, meskipun diakui banyak bacaan yang diwahyukan ditulis oleh para sahabat Nabi, pertanyaan yang kerap timbul adalah sejauh mana wahyu-wahyu itu memperoleh bentuk Al-Quran seperti yang telah kita kenal sekarang ini. karena Nabi tidak bisa melakukan pemeriksaan secara kritis terhadap Al-Quran. Seandainya Nabi melakukan itu, tentu tidak perlu ada usaha pengumpulan Al-Quran, yang dikenal kisahnya secara turun-menurun dimulai pada masa Abu Bakar dan dilanjutkan pada masa Utsman. Bahwa pada masa Nabi tidak ada usaha pengumpulan Al-Quran diyakini oleh Noldeke. Menurutnya, Al-Quran dikumpulkan pada masa khalifah Abu Bakar (bukan pada masa Nabi) berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori –238 tahun setelah kematian Nabi—tentang gagasan pengumpulan Al-Quran atas kegelisahan Umar karena banyaknya para penghafal Al-Quran yang gugur dalam pertempuran Yamamah. Pelaksana dari gagasan ini adalah Zaid bin Tsabit yang menerima tugas ini meskipun dengan “berat hati” karena dianggap sebagai tugas yang sangat sulit.
Berbeda dengan Montgomery Watt yang berpendapat bahwa tidak ada kumpulan Al-Quran secara resmi pada masa Abu Bakar. Kisah pengumpulan Al-Quran di masa Abu Bakar menurut Watt masih bisa dikritik dengan berbagai alasan. Pun demikian halnya dengan kisah turun-temurun tentang ‘kumpulan’ Al-Quran di bawah Utsman, hanya saja tidak seserius kritikan pada kasus pertama. Penetapan teks dibawah Utsman terjadi antara tahun 650 dan 656 (wafatnya Utsman). Bagaimanapun bentuk Al-Quran sebelumnya, yang pasti kitab yang ada ditangan kita sekarang adalah Al-Quran Utsmani. Komisi yang dibentuknyalah yang memutuskan apa yang harus dimasukkan dan apa yang harus dikeluarkan, menetapkan urutan surat, dan garis besar teks konsonantalnya.
Bukan mustahil bahwa pada proses pembakuan bacaan Al-Quran oleh komisi Utsman, tidak semua “catatan pribadi” para sahabat bisa tercover dalam mushaf. Hal ini bisa dilihat dari adanya “perdebatan” yang muncul ketika tidak adanya kesamaan dalam membaca ayat atau layak tidaknya suatu ayat dimasukkan. Bagaimana gambaran seputar perdebatan itu berlangsung akan dibahas melalui contoh-contoh berikut ini.

A. Ayat-ayat yang Tidak Didapati dalam Mushaf Utsmani
1. Beberapa bagian dari surat al-Ahzab
Ada beberapa riwayat yang menceritakan tentang bagian yang hilang dari mushaf Utsmani. Pertama, diriwayatkan dari Aisyah RA, ia berkata: “Pada zaman Nabi SAW, surat al-Ahzab dibaca sebanyak 200 ayat. Maka tatkala Utsman menulis mushaf, kami tidak mendapatinya kecuali yang ada yang sekarang”.
Kedua, diriwayatkan dari Dzar ibn Hubasy ia berkata: “Ubay ibn Ka’ab berkata kepadaku: ‘Bagaimana aku menghitung surat al-Ahzab?’ Aku berkata: ’72 ayat atau 73 ayat.’ Ia berkata: ‘Jika begitu adanya pasti ia akan menyamai surat al-Baqarah, dan jika demikian kita pasti membaca di dalamnya ayat rajm. ‘Aku berkata: ‘Apakah ayat rajm itu?’ Ia berkata:
اذا زنا الشيخ و الشيخة قارجموهما البتة نكالا من الله و الله عزيز حكيم
Ketiga, Umar pernah berkata: “Kalau tidak karena orang-orang akan mengatakan bahwa Umar telah menambah di dalam kitab Allah, maka akan aku tulis ayat rajm dengan tanganku sendiri.
Keempat, diriwayatkan dari Abu Hudzaifah yang berkata: “Saya pernah membaca surat al-Azhab pada masa Nabi SAW dan 70 ayat daripadanya saya sudah lupa dan saya tidak mendapatkannya di dalam Al-Quran sekarang.

2. Ayat-ayat yang hilang dari mushaf Utsmani, namun tidak diketahui suratnya.
Beberapa bagian dari Al-Quran yang tidak lagi terdapat dalam mushaf Utsmani biasanya dibahas para ulama tafsir dan ulum al-tafsir dalam bab naskh. Salah satu contoh diantaranya adalah, diriwayatkan dari Ibn Abdil Bar di dalam Tamhid dari Addly bahwasanya Umar berkata kepada Ubay: “Bukankah kita pernah membaca: ان انتفائكم من ابائكم كفرتكم “Ubay menjawab: “Benar.” Umar berkata: “Bukankah kita pernah membaca الولد للفراش وللعاهر الحجر termasuk ayat yang hilang dari kitab Allah?” Ubay menjawab: “Benar”.

B. Terdapat di dalam Mushaf Utsmani, Meskipun tidak Disetujui Sahabat Lain
1. Surat mu’awwidzatain
Diriwayatkan bahwa Ibn Mas’ud membuang mu’awwidzatain (al-Falaq dan al-Nas) dari mushafnya dan mengatakan bahwa keduanya tidak termasuk Al-Quran.

2. Huruf wawu pada surat al-Taubah: 34
Diriwayatkan oleh Alba ibn Ahmad bahwa Utsman ibn Affan pernah bersikeras meminta supaya huruf wawu dalam surat al-Taubah: 34 yang berbunyi والذين يكنزون dibuang, akan tetapi para sahabat menolak dan memprotes Utsman. Ubay berkata: “Kau harus menulis huruf wawu itu kalau tidak akan kuletakkan pedang ini diatas pundakku.“ Maka orang-orang menuliskannya.

3. Huruf wawu pada surat al-Taubah: 100
Diriwayatkan dari ‘Amr ibn ‘Amir al-Anshari bahwasanya Umar ibn Khattab membaca والسابقون الاولون من المهاجرين والانصار الذين اتبعوهم باحسان dengan merafa’kan kata الانصار dan tidak menambahkan huruf wawu pada الذين. Maka Zaid ibn Tsabit berkata: “والذين“. Umar berkata: “Panggillah Ubay ibn Ka’ab!” Ubay pun datang dan Umar menanyakan tentang hal itu. Ubay berkata: “والذين”. Maka Umar pun berkata: “Baiklah jika demikian, ikutilah Ubay”.

C. Perbedaan Urutan Surat dalam Mushaf-mushaf Pribadi Sahabat
Pada pembahasan Ulum Al-Quran tentang tertib surat, umumnya ulama berbeda pendapat mengenai statusnya, apakah taufiqy atau ijtihady. Dimana ulama juga berpendapat bahwa hal tersebut adalah ijtihady mendasarkan argumennya dengan adanya bedaan tertib surat
***
Dari contoh-contoh yang disebutkan, sedikitnya bisa diambil beberapa kesimpulan yaitu:
• Penulisan Al-Quran sudah dilakukan oleh beberapa sahabat sejak zaman Nabi, terbukti dengan adanya mushaf-mushaf pribadi sahabat. Hal ini sedikit tidak sependapat dengan kesimpulan Mingana yang menyatakan bahwa sabda Nabi hanya sedikit ditulis pada zamannya. Selain itu bukti-bukti seperti yang diutarakan Watt juga menguatkan bahwa tulis menulis bukanlah hal yang sulit dilakukan pada zaman itu.
• Adanya keterlibatan aktif para sahabat dalam proses pembakuan Al-Quran yang terlihat dari adanya perbedaan yang terjadi ketika terjadi perbedaan pandangan tentang suatu ayat dll. Hanya saja diasumsikan bahwa Zaid ibn Tsabit membuat aturan atau persyaratan tertentu dalam memutuskan dimasukkan atau tidaknya suatu kata, atau ayat. Besar kemungkinan bahwa di antara persyaratan itu adalah, keharusan adanya beberapa saksi yang mengatakan bahwa suatu ayat benar adanya disampaikan oleh Nabi. Artinya terjadi kesepakatan dari kebanyakan sahabat (ini yang mungkin disebut dengan keharusan mutawatirnya suatu ayat, meskipun akan timbul “keraguan” ketika ada ayat yang ternyata berstatus ahad seperti akhir surat al-Taubah ). Persyaratan lain yang mungkin ada adalah bahwa Zaid dan kawan-kawan mengusahakan adanya bukti tertulis dari ayat selain mengandalkan hafalan.
• Adanya pengetahuan tentang naskh ayat. Ini disinyalir dari adanya ayat-ayat yang tidak dimasukkan di dalam mushaf karena telah dihapus pada masa Nabi. Namun pengetahuan tentang hal ini tidaklah seragam di kalangan sahabat.

Demikanlah sedikit ulasan tentang permasalahan seputar pembakuan Al-Quran. Masih banyak bahasan yang belum tercover dalam makalah [S-1] ini. bahasan-bahasan selanjutnya mungkin dapat melengkapi kekurangan yang ada.
***


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: