Oleh: ayatayathidayah | November 28, 2008

ISTILAH-ISTILAH DALAM MADZÂHIB AL-TAFSÎR

Catatan Pendahulu
Pada awal-awal perkembangan ilmu tafsir, hanya dikenal dua pengkategorian tafsir: tafsir bi al-ma’tsûr (riwâyah, manqûl) dan tafsir bi al-ra’y (dirâyah, ma‘qûl). Yang terakhir kerap dibagi lagi menjadi dua: yang mamdûhah dan yang madzmûmah. Akan tetapi, pada perkembangan berikutnya, pengkategorian ini dirasa tak lagi memadai. Pasalnya, pada taraf berikutnya lebih banyak muncul karya-karya tafsir yang memadukan dua metode tersebut dan nyaris tak dijumpai lagi karya-karya tafsir yang berdasar riwayat semata atau ra’y murni.
Pada sisi lain, makin banyaknya aliran-aliran kalam, juga makin bercabang-cabangnya ilmu-ilmu keislaman, menyebabkan munculnya beragam tafsir yang memiliki corak, karakteristik, dan warna yang berbeda-beda. Situasi demikian menuntut pengkategorian yang lebih memadai untuk kitab-kitab tafsir.
Pengkategorian kitab-kitab tafsir, pada masa-masa mutakhir, telah ditinjau dalam beraneka sudut. Adanya beberapa pengkategorian menuntut pembedaan batasan istilah-istilah teknis dalam ilmu tafsir. Nah, berikut merupakan paparan beberapa istilah (manhaj, tharîqah, ittijâh, dan lawn) yang acap dipakai dalam proses memilah-milah kitab tafsir.

Manhaj (Metode)
Muhammad Bakr Ismâ‘îl memaknai manhaj sebagai “suatu cara yang ditempuh mufassir dalam menjelaskan makna-makna dan menyimpulkan makna-makna itu dari lafaz-lafaz, mengaitkan bagian yang satu dengan yang lain, menyebutkan atsar, dan menunjukkan dalâlah, hukum, ketentuan agama dan sebagainya; menurut ittijâh pemikiran dan mazhab mufassir, dan sesuai kebudayaan dan kepribadiannya.”
Sementara Ibrâhîm Syarîf mengartikannya sebagai “perantara (wasîlah) yang mengantarkan pada tujuan ittijâh (tafsir) dan merupakan wadah yang memuat pemikiran-pemikiran ittijâh itu.”
Dari kedua pemaknaan istilah manhaj itu, dapat dimengerti bahwa manhaj merupakan cara, sarana, atau bingkai penjelasan makna ayat. Layaknya suatu wadah, ia tak memiliki pengaruh langsung terhadap suatu penafsiran (isi wadah itu).
Ibrâhîm Syarîf membagi manhaj menjadi empat: al-taqlîdî al-qadîm (seperti metode lama), al-mawdhû‘î (tematis), al-jam‘ bayna al-taqlîdî wa al-mawdhû‘î (kombinasi dua metode tadi), dan al-maqâl al-tafsîrî (makalah tafsir). Ittijâh apapun bisa diwujudkan pada semua manhaj itu.
Sedangkan al-Farmawî membaginya menjadi: tahlîlî (analitis-runtut), ijmâlî (sederhana-global-runtut), muqâranah (perbandingan), dan mawdhû‘î (tematis). Yang tahlîlî dibagi lagi–menurut ittijah–mencakup: tafsir bi al-ma’tsûr, bi al-ra’y, fiqhî, falsafî, isyârî/shûfî, ‘ilmi, dan adabî-ijtimâ‘î.

Tharîqah (Sistematika)
Thariqah adalah bentuk formal dari cara yang ditempuh mufassir atau segi bentuk yang dipilih oleh mufassir dalam menyusun pembahasannya. Tharîqah berkait dengan alur penulisan dan sistematika penyusunan kitab tafsir. Tharîqah juga tidak memiliki pengaruh langsung yang signifikan pada hasil penafsiran karena hanya menjadi bentuk dari penulisan tafsir.

Ittijâh (Corak)
Ittijâh adalah posisi, pandangan, aliran, dan sudut pandang akidah mufassir yang diwakilinya, seperti Suni, Syiah, Mu‘tazilah, Asy‘ariyyah; baik penafsiran itu sifatnya mengikuti atau memperbarui, juga segi pegangan mufassir, apakah manqûl atau ma‘qûl, atau kombinasi dari keduanya.
Akan tetapi, al-Dzahabî meluaskan maknanya. Baginya ittijâh juga mencakup kecenderungan mufassir pada suatu disiplin tertentu (yang ia kuasai), sehingga akan ada al-ittijâh al-lughawî, al-ittijâh al-fiqhî, al-ittijâh al-falsafî di samping al-ittijâh al-syî‘î, al-ittijâh al-mu‘tazilî, dan sebagainya. Agaknya al-Farmawî menerima pemahaman seperti itu ketika membagi metode tahlîlî seperti disebut di muka.
Ibrâhîm Syarîf memiliki definisi yang sedikit berbeda. Menurutnya, ittijâh ialah dasar-dasar dan pemikiran-pemikiran tertentu yang mengikat pandangan mufassir dan mengarahkan tujuan penafsirannya.
Selanjutnya, ia menyebutkan tiga contoh ragam ittijâh (tafsir kontemporer), yakni: 1) al-ittijâh al-hidâ’î yang memandang al-Quran dari aspek hidayahnya, 2) al-ittijâh al-adabî yang memandang al-Quran dari aspeknya selaku nas sastra sebelum menjadikannya nas agama, 3) al-ittijâh al-‘ilmî yang memandang al-Quran dari aspek ilmu pengetahuannya.

Lawn (Karakteristik)

Maksud dari lawn adalah “warna” yang dilukiskan mufassir pada nas melalui aktivitas penafsiran dan pemahamannya; sesuai tingkat pemahaman akalnya, sehingga ia memaknai nas sedemikian rupa dan membatasi penjelasannya. Lawn merupakan hasil (natîjah) dari posisi dan sudut pandang mufassir. Suatu contoh, seseorang yang menafsirkan al-Quran dengan jalan riwâyah, ia akan mengumpulkan riwayat-riwayat seputar ayat itu yang dirasakannya senada dan berkaitan dengannya. Karenanya, ia menentukan maknanya sesuai apa yang terlintas dalam pikirannya, lalu ia menghubungkan antara ayat dengan riwayat-riwayat itu untuk kemudian ia tentukan apakah riwayat yang ia sebutkan ia terima atau ia tolak. “Pewarnaan” itu akan lebih kentara pada tafsir ‘aqlî-ijtihâdî.

Perihal Penerapan
Dengan pengertian-pengertian di muka, dipahami bahwa manhaj dan tharîqah suatu tafsir bisa dicermati dari “bentuk luar” atau “gaya penyajian”-nya. Sementara ittijâh dan lawn bisa dideteksi dari “latar mufassir” dan “produk tafsir”-nya.
Hanya saja, tidak jarang ditemukan bahwa istilah-istilah tersebut dipakai dalam maknanya yang sederhana (luas), tidak kaku, dan bahkan antara satu pemakaian dengan pemakaian lain bisa jadi dirasa tumpang tindih. Misalnya, kita bisa dapati manhaj sunnah nabawiyyah, manhaj lughawî, manhaj ‘aqlî, manhaj mawdhû‘î, manhaj târîkhî, manhaj ushûlî, manhaj adabî, manhaj shûfiyyah, ittijâh salafî, ittijâh ‘aqlî, lawn adabî, lawn ijtimâ‘î, lawn tarbawî, lawn kalâmî, dan sebagainya. Yang demikian bisa menjadi ruang yang menarik untuk diskusikan.[]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: