Oleh: ayatayathidayah | Januari 5, 2009

Al-Qur’an sebagai Mukjizat

Dalam bahasa Arab, kata ‘ajz berarti “hilangnya kemampuan (untuk menghadirkan sesuatu, baik perbuatan, pandangan, atau penataan)”. Sedangkan kata a‘jaza bermakna “melemahkan atau menjadikan tidak mampu”. Pelakunya disebut mu‘jiz, dan bila kemampuannya melemahkan pihak lain itu begitu menonjol, disebutlah sebagai mu‘jizah. Sedangkan i‘jâz al-Qur’ân berkenaan dengan bagaimana al-Qur’an membuat makhluk tak berdaya untuk menyanggupi tantangan al-Qur’an.

Secara terminologis, mu‘jizah sering didefinisikan ulama sebagai amr khâriq li al-‘âdah maqrûn bi al-tahaddî sâlim ‘an al-mu‘âradhah yazhharu Allâh ‘alâ yad rusulih, yakni suatu hal atau peristiwa yang luar biasa yang mengandung tantangan namun tak ada yang bisa menandinginya, yang Allah tampakkan lewat para nabi-Nya.

Dengan demikian, sesuatu dinamai mukjizat bila memenuhi 4 syarat atau unsur: 1) hal atau peristiwa luar biasa [baik dengan mengadakan yang tidak ada, meniadakan yang ada, atau mengubah yang ada], 2) terjadi pada atau disampaikan oleh seorang yang telah mengaku sebagai nabi, 3) mengandung tantangan (untuk mendatangkan yang lebih luar biasa) bagi yang meragukan kenabiannya sehingga hal itu menjadi bukti dari kenabiannya, dan 4) tantangan tersebut tidak mampu atau gagal diladeni.

Mukjizat para nabi pada umumnya merupakan peristiwa yang empiris atau materiil, semisal tongkat yang berubah menjadi ular, unta yang keluar dari bebatuan, tidak hangus saat dibakar, atau menyembuhkan orang buta dan tuli. Inilah mengapa para penentang Nabi Muhammad saw. pun sering menantang beliau untuk mendatangkan peristiwa ajaib yang bersifat empiris. Akan tetapi, tak banyak tantangan untuk menghadirkan mukjizat materiil yang dilayani oleh Nabi Muhammad saw. Alih-alih meladeni kebanyakan tantangan mereka, beliau justru membawakan mukjizat yang lebih bersifat intelektual, yakni ayat-ayat al-Qur’an.

Al-Qur’an diyakini sebagai mukjizat terbesar yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Al-Qur’an sendiri memang tak memakai istilah ini (yakni mu‘jizah), namun menggunakan istilah âyah, bayyinah, burhân, dan sulthân untuk merujuk hal yang serupa. Al-Qur’an disebut mukjizat karena al-Qur’an adalah sesuatu yang luar biasa—dan bahkan kemukjizatannya tidak hanya merujuk al-Qur’an sebagai keseluruhan, namun juga sebagiannya atau bahkan sepenggal ayatnya. Al-Qur’an juga disampaikan oleh seorang nabi, yakni Nabi Muhammad saw. dan menjadi tantangan bagi yang menentang kenabian beliau.

Mula-mula manusia ditantang untuk membuat—atau bahkan sekadar mendatangkan—sesuatu semacam al-Qur’an (tanpa ada batasan) dengan firman Allah:

Ataukah mereka menyatakan bahwa dia (Muhammad) membuat-buatnya. Sebenarnya mereka tidak beriman, maka hendaklah mereka mendatangkan ucapan semisal al-Qur’an jika mereka orang-orang yang benar (dengan tuduhan mereka). (al-Thûr: 33-34)

Karena al-Qur’an banyak mengisahkan umat terdahulu, orang-orang yang melemparkan tuduhan bahwa al-Qur’an dibuat-buat oleh Muhammad berdalih bahwa mereka tak mengetahui sejarah umat terdahulu sehingga wajar mereka tak bisa membuat yang semacamnya. Lantas Allah pun meringankan tantangan itu dengan firman-Nya:

Bahkan mereka mengatakan, “Dia (Muhammad) telah membuat-buat al-Qur’an (lalu dikatakannya itu dari Tuhan).” Katakanlah, “(Kalau demikian) maka datangkanlah sepuluh surah saja yang dibuat-buat yang menyamainya dan panggillah orang-orang yang sanggup kamu panggil selain Allah jika kamu memang benar (dengan tuduhanmu).” (Hûd: 13).

Di sini mereka ditantang untuk memunculkan sepuluh surah saja yang “muftarayât”, yakni yang redaksinya tersusun seindah dan seteliti al-Qur’an, meski isinya salah atau bohong. Namun, tantangan ini pun tak sanggup mereka ladeni. Maka turunlah tantangan yang lebih ringan:

Atau patutkah mereka berkata, “Dia (Muhammad) membuat-buatnya?” Katakanlah (kalau benar tuduhan kamu itu), maka buatlah satu surah semacamnya dan panggillah siapa pun yang dapat kamu panggil selain Allah, jika kamu benar (dengan tuduhanmu).” (Yûnus: 38).

Tantangan untuk mendatangkan satu surah ini pun, yang juga turun pada fase Mekah, belum jua mampu diladeni. Maka turunlah wahyu yang mempertegas tantangan ini pada fase Madinah:

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’an yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah walau satu surah yang lebih kurang semisal al-Qur’an. Ajaklah penolong-penolongmu selain Allah jika kamu memang orang-orang yang benar (dengan keraguanmu). (al-Baqarah: 23).

Di sini pun tantangannya diperingan, tidak “satu surah semisal al-Qur’an” tetapi “satu surah yang lebih kurang semisal al-Qur’an”. Namun, al-Qur’an tak kunjung bisa ditandingi, dan bahkan tak akan tertandingi sebagaimana berulang kali al-Qur’an tegaskan, misalnya dalam ayat:

Katakanlah (hai Muhammad), ”Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu sebagian yang lain.” (al-Isrâ’: 88).

Dengan demikian, al-Qur’an menjadi suatu mukjizat karena tantangan untuk menandinginya tak berhasil diladeni manusia, baik pada masa pewahyuan al-Qur’an maupun setelahnya. Al-Qur’an bahkan adalah mukjizat yang istimewa karena, berbeda dari mukjizat-mukjizat para nabi selainnya, kemukjizatan al-Qur’an berlaku abadi dan untuk semua umat manusia.[]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: